Sunday 24 April 2016

Golongan Darah Menentukan Kepribadian Seseorang, Hoax atau Ilmiah?

Selama ini kita mempercayai bahwa golongan darah tertentu bisa mempengaruhi kepribadian seseorang. Tipe A diyakini sebagai pemilik kepribadian yang sangat hati-hati dan perfeksionis, tipe B diyakini sebagai seorang yang konyol dan cuek, tipe AB disebut-sebut sebagai si rasional yang tenang, dan tipe O adalah sosok yang sangat optimis dan pekerja keras.


Kepribadian berdasarkan golongan darah tersebut menjadi sangat populer pada saat ini. Di internet banyak komik yang menceritakan interaksi antara keempat golongan darah tersebut. Di Jepang dan Korea, ramalan berdasarkan jenis kelamin justru mengisi tayangan televisi pagi hari. Bahkan sampai ada layanan pencari jodoh yang berdasarkan golongan darah, atau pencari kerja dengan karyawan bergolongan darah tertentu.

Lalu, mengapa bisa disebut (atau dicurigai) sebagai HOAX? Karena tidak ada dasar atau bukti ilmiah yang dapat membuktikan hal tersebut!

Adalah Karl Landsteiner yang menemukan penggolongan darah ABO pada tahun 1901. Penelitian ini menemukan bahwa perbedaan golongan darah disebabkan oleh protein yang terdapat pada darah. Manfaat dari penelitian ini digunakan dalam proses transfusi darah.

Di kemudian harilah penyimpangan tersebut dimulai. Jerman di bawah pimpinan diktator Adolf Hitler berusaha membuat etnis mereka memiliki derajat yang lebih tinggi dari etnis lain, agar mereka bisa menguasai dunia. Pada saat itu Jerman memiliki rasio golongan darah A dan O yang tinggi, sehingga dibuatlah pengetahuan semu berupa teori palsu yang meninggi-ninggikan orang dengan golongan darah A dan O.

Konsep ini kemudian diadopsi oleh Jepang pada tahun 1930-an untuk membentuk tentara-tentara unggul. Tentara pada posisi yang lebih penting terdiri dari golongan darah tertentu. Setelah ini, pemikiran dan teori mengenai kepribadian berdasarkan golongan darah sempat tidak digunakan lagi selama bertahun-tahun.

Kepribadian berdasarkan golongan darah diangkat kembali dan menjadi populer ketika Masahiko Nomi menuliskan buku berjudul “Understanding Affinity by Blood Type” (Memahami Persamaan berdasarkan Golongan Darah) pada tahun 1971. Kesuksesan dari buku tersebut disusul oleh 10 buku lainnya kemudian. Masahiko Nomi meninggal dunia pada tahun 1981 dan setelah itu pembahasan mengenai golongan darah dilanjutkan oleh Toshitaka Nomi, anaknya.

Keraguan muncul ketika diketahui bahwa Nomi Masahiko adalah seorang pengacara dan jurnalis, dengan tanpa latar belakang kedokteran/psikologi sama sekali. Pandangan Nomi Masahiko mengenai golongan darah diduga terpengaruh oleh Takeji Furukawa. Siapakah Takeji Furukawa?

Takeji Furukawa adalah seorang profesor di Sekolah Guru Perempuan Tokyo (Tokyo Women’s Teacher’s School) yang mempublikasikan papernya “The Study of Temperament Through Blood Type” (Kajian Temperamen berdasarkan Golongan Darah) di jurnal Psychological Research pada tahun 1927. Ia melakukan observasi terhadap perbedaan temperamen kepada murid-murid yang belajar di sekolahnya dan mengambil simpulan bahwa semua manusia dapat dibagi menjadi 2 macam kepribadian. Manusia bergolongan darah A yang intelek dan tenang dengan manusia bergolongan darah B yang emosional dan mudah marah. Studi tersebut sempat mendapat kritik karena dianggap tidak ilmiah dan tidak memiliki bukti-bukti yang kuat. Kajian mengenai golongan darah dan kepribadian kemudian menghilang hingga diangkat kembali oleh Masahiko Nomi pada tahun 1971.

Dengan iseng, saya mencoba mencari penelitian mengenai kepribadian berdasarkan golongan darah di Google Scholars dan Psycnet APA, dengan kata kunci “blood types personality” dan “blood types temperament”. Saya mendapatkan beberapa jurnal menarik (yang sayangnya hanya bisa saya dapatkan abstraknya, untuk jurnal penuhnya harus bayar berpuluh-puluh USD). Sebagai catatan, saya hanya memilih jurnal yang ditulis selama 15 tahun terakhir saja. Mari kita bahas satu persatu

1. Personality, Blood Type, and The Five-Factor Model, oleh Cramer dan Imaike (2002)
Penelitian ini mencari kaitan antara golongan darah dan kepribadian dengan basis five-factor model (OCEAN model) dengan instrumen NEO-PI. Partisipan dari subyek ini adalah 400 mahasiswa di Kanada yang telah diketahui golongan darahnya. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa tidak ada pengaruh golongan darah terhadap kepribadian.

2. Blood Type and Personality, oleh Rogers dan Glendon (2003)
Penelitian ini juga menguji kaitan antara golongan darah dengan kepribadian, dengan basis OCEAN model. Penelitian ini menghasilkan temuan bahwa tidak ada kaitan/hubungan antara golongan darah dengan kepribadian.

3. Blood Type and The Five Factors of Personality in Asia, oleh WU, Lindsted, dan Lee (2005)
Penelitian ini dilakukan berdasarkan hasil temuan dari 2 penelitian yang saya sebutkan di atas, yang juga meneliti kaitan antara golongan darah dengan kepribadian berbasis OCEAN model. Penelitian ini dilakukan kepada siswa sekolah tinggi di Taiwan dengan instrumen NEO-PI-R versi China. Penelitian ini menemukan tidak ada hubungan/kaitan yang signifikan antara golongan darah dan kepribadian, kecuali tipe AB pada perempuan yang memiliki skor lebih rendah pada domain conscientiousness. Tapi Wu, Lindsted, dan Lee menduga bahwa hal ini terjadi akibat jumlah partisipan yang kurang banyak sehingga tetap disimpulkan bahwa tidak ada hubungan/kaitan antara golongan darah dengan kepribadian.

Dari sini bisa ditarik ringkasan dari perkembangan kajian golongan darah tersebut:
–     Digunakan oleh Nazi untuk mengangkat derajat etnis mereka.
–     Diteliti oleh Takeji Furukawa, tetapi mendapat banyak kritikan akibat kurangnya data-data yang mendukung dan kurang ilmiah.
–     Menghilang selama hampir 50 tahun dan diangkat kembali oleh Masahiko Nomi, seorang pengacara dan jurnalis yang tidak memiliki latar belakang kedokteran/psikologi, dan tidak melakukan penelitian apapun mengenai kepribadian berdasarkan golongan darah.
–     Dilanjutkan oleh Toshitaka Nomi.
–     Hingga saat ini belum ditemukan penelitian yang mendukung adanya keterkaitan/hubungan antara kepribadian dengan golongan darah.

Dampak-Dampak yang Muncul Akibat Populernya Teori Golongan Darah
–     1990, Mitsubishi Electronics memasang iklan lowongan kerja di harian Asahi Daily yang hanya merekrut pekerja bergolongan darah AB karena diyakini mampu membuat perencanaan dengan baik
–     Menteri Jepang, Ryu Matsumoto, menyatakan pengunduran dirinya karena emosinya yang tidak stabil sehingga menyebabkan keributan. Dalam pidato pengunduran dirinya, ia menyatakan bahwa ia menyesal memiliki golongan darah B sehingga ia menjadi emosional.
–     Tim softball di Jepang pada Olimpiade Beijing mengaku menggunakan teori golongan darah tersebut untuk memberikan pelatihan yang berbeda-beda pada setiap individu
–     Beberapa TK di Jepang memisahkan kelas berdasarkan golongan darah.
–     Beberapa perusahaan besar melaporkan bahwa mereka menggunakan golongan darah sebagai salah satu penentu diterimanya seseorang dalam perusahaan mereka.

Kesimpulan
Berdasarkan hasil bacaan singkat saya terhadap beberapa literatur, dapat disimpulkan bahwa teori kepribadian berdasarkan jenis kelamin masih harus dipertanyakan. Mengingat kemunculannya pertama kali didasarkan oleh pandangan etnosentrisme (etnis tertentu harus lebih unggul dari etnis lainnya), sempat mendapatkan penolakan karena kurang memiliki bukti ilmiah, dan hingga saat ini belum ada penelitian ilmiah yang mampu mendukungnya.

Hal ini juga mungkin bisa menjadi ide penelitian selanjutnya, apakah benar golongan darah berhubungan dengan kepribadian tertentu?

3 comments:

Sleep Loss and College Student Performance

The college experience is of great value in providing emerging adults with a structured environment in which they can gain the knowledge, sk...