Thursday 7 November 2013

Laporan Praktikum Taksonomi Invertebrata Protozoa



BAB I
PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang
         Pada dasarnya dalam ilmu taksonomi, seluruh makhluk hidup dikelompokkan ke dalam dua kerajaan (kingdom) yakni kingdom tumbuhan (kingdom plantae) dan kerajaan hewan (kingdom animalia). Pengelompokan tersebut didasarkan atas persamaan ciri-ciri atau persamaannya. Tumbuhan mempunyai ciri-ciri tertentu, yakni mempunyai klorofil (zat hijau daun) dan hewan mempunyai ciri-ciri tersendiri pula yakni dapat bergerak (Jasin,1992).
             Dalam sebuah penelitian ditemukan adanya beberapa makhluk hidup bersel satu yang sekaligus mempunyai ciri-ciri tumbuhan dan ciri-ciri hewan (mempunyai klorofil dan dapat bergerak leluasa). Akhirnya sebagian ahli berpendapat bahwa bahwa makhluk-makhluk hidup ini sebaiknya dikelompokkan ke dalam kingdom animalia, filum protozoa. Di dalam uraian ini, kita mengikuti pendapat yang kedua. Protozoa kita masukkan ke dalam kingdom animalia, kelompok avertebrata (Jasin,1992).

        Protozoa berasal dari kata protos yang artinya pertama dan zoon yang berarti hewan, jadi protozoa adalah hewan yang pertama kali di kenali. Protozoa adalah organisme yang tersusun atas satu sel sehingga bersifat mikroskopik. Untuk lebih mempermudah mempelajarinya ahli biologi mengelompokkannya menjadi 4 kelas berdasarkan alat geraknya (Jasin,1992).

1.2  Rumusan Masalah
Rumusan masalah dari praktikum ini adalah:
1.    Bagaimana habitat protozoa (amoeba, paramecium dan euglena)?
2.    Bagaimana morfologi protozoa (amoeba, paramecium dan euglena)?
3.    Bagaimana anatomi protozoa (amoeba, paramecium dan euglena)?
4.    Bagaimana klasifikasi protozoa (amoeba, paramecium dan euglena)?


1.3  Tujuan
Tujuan dari praktikum ini adalah:
1.    Untuk mengetahui habitat protozoa (amoeba, paramecium dan euglena)
2.    Untuk mengetahui morfologi protozoa (amoeba, paramecium dan euglena)
3.    Untuk mengetahui anatomi protozoa (amoeba, paramecium dan euglena)
4.    Untuk mengetahui klasifikasi protozoa (amoeba, paramecium dan euglena)


BAB II
Tinjauan Pustaka
Filum protozoa merupakan hewan yang tubuhnya terdri dari satu sel. Nama protozoa berasal dari bahasa latin yang berarti “hewan yang pertama” (proto = awal, zoon = hewan). Hewan filum ini hidup di daerah lembab, misalnya di air tawar, air laut, air payau, dan tanah, bahkan di dalam tubuh organisme lain. Protozoa ada yang hidup bebas, komensal maupun parasit pada hewan lain. Hewan ini ada yang hidup individual (soliter) dan ada pula yang membentuk koloni (Yusminah, 2007: 4).
           Protozoa adalah organisme-organisme heterotrofik yang ditemukan di semua habitat utama. Sebagian di antaranya hidup bebas, sedangkan yang lainnya hidup sebagai parasit di dalam tubuh hewan. Sebagaian protozoa juga menjalani gaya hidup simbiotik berupa komensalisme dan mutualisme. Protozoa parasitik menyebabkan beberapa penyakit manusia yang paling tersebar luas dan membahayakan. Pada umumnya, reproduksi protozoa adalah aseksual, tetapi terjadi juga pola-pola seksual yang kompleks (George, 2006: 318).
      Protozoa adalah hewan-hewan bersel tunggal. Hewan-hewan itu mempunyai struktur yang lebih majemuk dari sel tunggal hewan multiseluler dan walaupun hanya terdiri dari satu sel, namun protozoa merupakan organisme sempurna. Karena sifat struktur yang demikian itu, maka berbagai ahli dalam zoology menamakan protozoa itu selular tetapi keseluruhan organisme itu dibungkus dengan satu plasma membrane. Protozoa itu kecil, berukuran kurang dari sepuluh micron dan, walaupun jarang ada yang mencapai 6 milimeter (Rohmimohtarto, 2007: 107). 
        Protozoa membentuk suatu subkerajaan dari kerajaan protista dalam klasifikasi lima kerajaan makhluk-makhluk hidup (Monera, protista, Plantae, Fungi, dan Animalia). Mereka lebih primitive dari hewan. Bagaimanapun kompleks badan-badan mereka dan banyak dari mereka sangat kompleks, semua struktur berbeda tersebut berada di dalam satu sel. Tetapi beberapa protozoa mempunyai stadium di dalam siklus hidupnya di mana tidak ada dinding-dinding sel diantara nukleit, dan beberapa spesies membentuk koloni-koloni yang berenang sebagai satu unit dan berisi organisme somatic dan reproduktif yang kelihatannya berbeda. Protozoa berukuran mikroskopik, hanya sedikit yang dapat dilihat dengan mata telanjang. Beberapa flagelata berisi klorofil dan oleh beberapa dianggap sebagai algae, banyak species protozoa yang tidak berwarna, berbeda dari yang hijau karena tidak mempunyai kromator, namun kehilangan kromator itu dapat dibuat secara eksperimental (Radiopoetro, 1996: 83).  


BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Paramecium sp
4.1.1 Hasil pengamatan
Hasil
Literatur


 








4.1.2 Pembahasan
1. Air Jerami (Paramecium sp)
4.1.2.1 Morfologi
            Hasil pengamatan yang kami lakukan dapat diketahui bahwa pada sampel air jerami dapat ditemukan paramecium sp. Paramecium sp memiliki beberapa bagian tubuh diantaranya  silia, nucleus, vakuola makanan yang berbentuk bulat dan bewarna bening atau transparan serta bergerak berputar (helix). Pada pengamatan ini menggunakan mikroskop dengan perbesaran 10 x 10.
            Adapun morfologi dari Paramecium adalah berukuran sekitar 50-350 ɰm. yang telah memiliki selubung inti (Eukariot). Paramecium bergerak dengan menggetarkan silianya, yang bergerak melayang-layang di dalam air. Cara menangkap makanannya adalah dengan cara menggetarkan rambut (silianya), maka terjadi aliran air keluar dan masuk mulut sel. Saat itulah bersamaan dengan air masuk bakteri bahan organik atau hewan uniseluler lainnya, memiliki vakuola makanan yang berfungsi untuk mencerna dan mengedarkan makanan, serta vakuola berdenyut yang berguna untuk mengeluarkan sisa makanan (George, 2006).
4.1.2.2 Anatomi
            Berdasarkan hasil pengamatan, paramecium berbentuk seperti sandal dengan sedikit cekungan di salah satu sisinya. Bagian luar tubuh diselimuti oleh cilia yang berfungsi untuk pergerakan. Dibagian dalamnya terlihat beberapa organel yaitu nucklus yang berfungsi untuk mengatur kegiatan sel, vakuola makanan ini berfungsi sebgai proses pencernaan makanan.
Adapun anatomi dari Paramecium menurut Rohmimohtarto dalam bukunya Zoologi Invertebrata (2007) menjelaskan bahwa Paramecium memiliki bentuk oval, seperti sandal, bulat di bagian depan atau atas dan menunjuk di belakang atau bawah.  Kulitnya tipis dan elastis. Adapun yang menutupi kulit tipis adalah rambut-rambut kecil banyak, yang disebut silia. Lubang bagian belakang disebut pori anal. Pada bagian luar Paramecium ditemukan vakuola kontraktil dan kanal. Dan bagian dalam Paramecium terdapat sitoplasma, trichocysts, kerongkongan, vakuola makanan, makronukleus dan mikronukleus itu sendiri.
4.1.2.3 Reproduksi
Reproduksi Paramecium adalah secara seksual dan aseksual, secara seksual yaitu oral grove saling melekat kemudian  inti makro melebur dan mengalami serangkaian pembelahan, setelah pembelahan inti mikro dari setiap Paramecium berpindah ke area diantara kedua Paramecium, dan membelah secara mitosis, inti mikro melebur membentuk satu inti mikro disetiap Paramecium melalui serangkaian proses pembelahan, kemudian terbentuklah inti makro, dan kedua Paramecium memisahkan diri dan setiap Paramecium membelah dan menghasilkan empat Paramecium muda.  Reproduksi secara aseksual yaitu dengan cara berkembang biak dengan membelah diri atau pembelahan biner. Pembelahan diawali dengan pembelahan mikronukleus, diikuti pembelahan makronukleus. Setelah itu terjadi penggentingan membran plasma dan akhirnya terbentuklah sel anak. Masing-masing sel anak identik, mempunyai dua nukleus, sitoplasma dan alat sel lainnya (Rohmimohtarto, 2007).
4.1.2.4 Habitat
            Paramecium hidup diperairan, biasanya dapat ditemukan pada air sawah maupun jerami. Berdasarkan hasil pengamatan, paramecium ditemukan di air jerami saja, pada air sumur, sungai dan kolam tidak ditemukan paramecium, mungkin karena kurangnya ketelitian praktikan dalam mengamati air sampel.

4.2 Euglena sp
4.2.1 Hasil Pengamatan
Hasil
Literatur










4.2.2 Pembahasan
2. Air Jerami (Euglena sp)
4.2.2.1 Morfologi
Menurut hasil pengamatan yang telah dilakukan dapat diketahui bahwa Euglena sp ini memiliki bentuk oval,dan memeiliki flagel di interior. Euglena sp ini memiliki ciri-ciri diantaranya berflagel, memiliki bintik mata (eyespot) dan juga terlihat warna hijau pada tubuhnya. Pada pengamatan ini terlihat Euglena sp berjalan sangat cepat, sehingga bagian tubuh yang lainnya tidak terlihat.
Adapun morfologi dari Euglena yaitu memiliki  tubuh yang menyerupai gelendong dan diselimuti oleh pelikel Euglena viridis. Ukuran tubuhnya 35 – 60 mikron dimana ujung tubuhnya meruncing dengan satu bulu cambuk. Hewan ini memilki stigma (bintik mata berwarna merah) yang digunakan untuk membedakan gelap dan terang. Euglena juga memiliki kloroplas yang mengandung klorofil untuk berfotosintesis. Euglena memasukkan makanannnya melalui sitofaring menuju vakuola dan ditempat  inilah makanan yang berupa hewan – hewan kecil dicerna (Rohmimohtarto, 2007).
4.2.2.2 Anatomi
            Berdasarkan pengamatan ini terdapat flagel yang berfungsi untuk alat pergerakan, flagel ini terletak di anterior dekat stigma (bintik mata). Pada bagian dalamnya terlihat bintik mata bewarna merah, bintik mata ini berfungsi seperti halnya mata, tetapi sensitif terhadap cahaya yang terang, sehingga ketika ada cahaya yang terang euglena ini cenderung menjauh. Pada tubuhnya tampak warna kehijauan, menurut Rohmimohtarto (2007) warna kehijauan pada euglena adalah kloroplas, sehingga walaupun euglena termasuk protozoa tetapi euglena masih dapat membuat makanan sendiri.
Adapun anatomi dari Euglena yaitu memiliki satu flagella yaitu ekor sebagai alat gerak, satu panjang dan satu pendek organisme ini dapat melakukan simbiosis dengan jenis ganggang tertentu dan tubuhnya dapat memancarkan sinar bila terkena rangsangan mekanik. Untuk reproduksi Euglena berkembang biak secara vegetatif, yaitu dengan pembelahan biner secara membujur. Pembelahan ini dimulai dengan membelahnya nukleus menjadi dua. Selanjutnya flagel dan sitoplasma serta selaput sel juga terbagi menjadi dua. Akhirnya terbentuklah dua sel Euglena baru. Sistem sirkulasi euglena mengambil zat organik yang terlarut di sekitarnya. Pengambilan zat organik dilakukan dengan cara absorbsi melalui membran sel. Selanjutnya, zat makanan itu dicernakan secara enzimatis di dalam sitoplasma (Yusminah, 2007).
4.2.2.3 Habitat
Adapun habitat dari Euglena  adalah di air tawar dan melimpah di daerah ini, seperti di kolam peternakan atau parit saluran air, yang mengkonsumsi kotoran binatang.
Secara umum Euglenophyta mempunyai cara hidup yang lengkap yaitu dapat bersifat saprofit (heterotrof pada hewan yang sudah mati yang mengandung bahan organik), holozoik (menyerap bahan makanan) fototrofik sehingga dapat hidup secara heterotrof, sedangkan autotrof dilakukan apabila lingkungan kurang terdapat bahan organik. Oleh karena Euglenophyceae dapat bersifat heterotrof maupun autotrof maka Euglenophyceae disebut bersifat miksotrof.


BAB V
PENUTUP

5.1 Kesimpulan
Berdasarkan hasil pengamatan dan pembahasan di atas dapat di simpulkan bahwa :
1.         Perbedaan yang signifikan dari kedua sepsies ini, jika dilihat dari habitat Paramecium sp yang ditemukan hidup di daerah perairan, biasanya dapat ditemukan pada air sawah maupun jerami, dan habitat dari Euglena  sendiri di air tawar.

2.         Anatomi dan morfologi dari kedua spesies ini tidak jauh berbeda hanya beberapa bagian tertentu dari tubuh kedua spesies ini yang membedakannya. Keduanya memiliki nucleus, vakuola makanan, dan tentunya memiliki ukuran yang berbeda. Selain itu, kedua spesies ini masing-masing memiliki suatu system yang membantu pergerakan mereka. Paramecium sp dilengkapi dengan rambut getar atau silianya sedangkan Euglena sp dilengkapi dengan flagelnya.

3.   Klasifikasi Euglena sp yaitu :
Kingdom : Excavata
                  Divisi : Eugnelophycota
                         Class : Euglenoidea
          Ordo : Euglenales
                  Family : Euglenaceae
                        Genus : Euglena sp


4.      Klasifkasi Paramecium sp yaitu :
Kingdom : Protista
           Filum : Ciliophora
                 Class : Ciliatea
                        Subkelas : Rhabdophorina
                               Ordo : Peniculida
                                       Subordo : Hymenostomatida
                                                Family : Parameciidae
                                                      Genus : Paramecium
                                                              Species : Paramecium sp

5.2 Saran
Adapun saran yang dapat kami berikan setelah melakukan praktikum ini adalah agar praktikan lebih memperhatikan kondisi bahan, agar organisme yang diamati lebih banyak.

DAFTAR PUSTAKA

George H, Fried.  2006. Biologi Edisi Kedua. Jakarta: Erlangga
Hala, Yusminah. 2007. Biologi Umum 2. Makassar: UIN Alauddin Press
Jasin, Maskoeri. 1992. Zoologi Invertebrata. Surabaya: Sinar Wijaya
Radiopoetro. 1986.  Zoologi Avertebrata. Jakarta: Erlangga
Rohmimohtarto. 2007. Zoologi Invertebrata. Jakarta : Pustaka

 




No comments:

Post a Comment

Sleep Loss and College Student Performance

The college experience is of great value in providing emerging adults with a structured environment in which they can gain the knowledge, sk...