Monday 28 October 2013

KKL Makroalga Kondang Merak



LAPORAN KULIAH KERJA LAPANGAN (KKL)
KONDANG MERAK

Dosen Pembimbing:
Drs. Sulistijono, M.Si
Ainun Nikmati Laily,M.Si


Disusun Oleh: Kelompok 6
1.     Andi Jaya Pramata
2.     A. Nurrudin Khoiri
3.     Wahyu Safitri Rahmawati
4.     Kiki Widiastuti
5.     Siti Mutmainnah
6.     Ahammiyatu Najati

JURUSAN BIOLOGI
FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI MAULANA MALIK IBRAHIM
MALANG






BAB I
PENDAHULUAN
1.1  Latar Belakang
Indonesia merupakan Negara kepulauan yang dipisahkan oleh laut antara pulau yang satu dengan pulau yang lainnya. Laut Indonesia terkenal akan keindahan dan kekayaan isinya. Laut Indonesia terlihat indah dengan biotanya yang beraneka ragam, keanekaragaman itu dapat diamati baik berupa flora maupun fauna. Bila di batasi pada tumbuhan saja, keanekaragaman dapat dilihat pada setiap sifat, bentuk, struktur dan fungsinya. Salah satu keanekaragam flora yang terdapat di Indonesia yaitu alga.
Tumbuhan alga merupakan tumbuhan talus yang hidup di air, baik air tawar maupun air laut. Tumbuhan talus ialah tumbuh-tumbuhan yang belum dapat dibedakan dalam tiga bagian utamanya yaitu akar, batang dan daun. Tubuh yang berupa talus ini mempunyai struktur dan bentuk dengan variasi yang berbeda-beda. Tumbuhan yang memiliki ciri utama berbentuk talus ini di masukkan ke dalam Divisi Thallophyta.
Dalam mengetahui klasifikasi, taksonomi, kekerabatan dan asal-usul tumbuhan diperlukan sistematika tumbuhan Cryptogamae. Tumbuhan Cryptogamae adalah tumbuhan tingkat rendah yang alat perkembangbiakannya tersembunyi dan reproduksinya dengan spora, contohnya pada divisi algae. Sebagaima yang telah di firmankan Allah dalm QS. At-Thahaa, ayat 50 : 

  
Ù‚َالَ رَبُّÙ†َا الَّØ°ِÙŠ Ø£َعْØ·َÙ‰ ÙƒُÙ„َّ Ø´َÙŠْØ¡ٍ Ø®َÙ„ْÙ‚َÙ‡ُ Ø«ُÙ…َّ Ù‡َدَÙ‰

“Musa berkata: "Tuhan Kami ialah (tuhan) yang telah memberikan kepada tiap-tiap sesuatu bentuk kejadiannya, kemudian memberinya petunjuk.” (QS. At-Thahaa : 50 ).
Ayat ini menjelaskan bahwa Allah menciptakan bermacam – macam bentuk, agar kita mendapatkan petunjuk dari bentuk tersebut, seperti halnya pada alga, keanekaragaman bentuk alga memudahkan kita dalam mengenali dan mengklasifikasikannya.
Pantai Kondang Merak merupakan tempat yang ideal untuk pertumbuhan makroalga sebab perairannya yang masuk daerah pasang surut sampai daerah subtidal, subtratnya berupa batu karang, pasir serta intensitas cahaya yang cukup. Menurut Hayati (2009) Pantai Kondang merak merupakan pantai yang relatif tertutup dari masyarakat luar, terdiri atas sejumlah penduduk yang kehidupan sehari-harinya sangat bergantung pada sumber daya alam di pantai. Sebagian besar masyarakat membudidayakan makroalga sebagai sumber penghasilan.
Oleh karena itu, praktikan melakukan kegiatan kuliah kerja lapangan (KKL) di pantai Kondang merak Malang karena kondisi pantainya yang masih sangat alami dan jauh dari keramaian, sehingga dimungkinkan ditemukannya berbagai macam jenis alga di pantai ini.
Dalam penulisan laporan ini, penulis hanya membahas pada alga Devisi Chlorophyta , spesies Halimeda macroloba.
                              
1.2  Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah dari praktikum kali ini adalah sebagai berikut:
1.      Bagaimana klasifikasi dari Devisi Chlorophyta (Halimeda macroloba)
2.      Bagaiman ciri – ciri morfologi dari Devisi Chlorophyta (Halimeda macroloba)
1.3  Tujuan
Tujuan dari di lakukannya Kegiatan KKL  ini adalah sebagai berikut:
1.      Mengetahui klasifikasi dari Devisi Chlorophyta (Halimeda macroloba)
2.      Mengetahui ciri –ciri morfologi dari Devisi Chlorophyta (Halimeda macroloba).


1.4  Manfaat
Hasil dari  Kegiatan KKL  ini diharapkan dapat memberikan manfaat sebagai berikut:
1.      Memberikan informasi pada pembaca tentang Halimeda macroloba
2.      Menambah wawasan keilmuan praktikan


















BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Chlorophyta
Chlorophyta merupakan divisi terbesar dari semua divisi alga, sekitar 6500 jenis anggota divisi ini telah berhasil diidentifikasi. Divisi Cholorophyta tersebar luas dan menempati beragam substrat seperti tanah yang lembab, batang pohon, batuan basah, danau, laut hingga batuan bersalju. Sebagian besar (90%) hidup di air tawar dan umumnya merupakan penyusun komunitas plankton. Sebagian kecil hidup sebagai makro alga di air laut. Divisi Chlorophyta hanya terdiri atas satu kelas yaitu Chlorophyceae yang terbagi menjadi empa ordo yaitu : Ulvales, Caulerpales, Cladophorales, dan Dasycladales (Verheij, 1993). Chlorophyta memiliki pigmen dominan hijau. Pigmen tersebut berasal dari klorofil yang dikandung alga (Marianingsih,2013).
Sebagai fitobentik tumbuhan ini hidup menancap atau menempel di substrat dasar perairan laut seperti karang mati, fragment karang, pasir dan pasir-lumpuran. Pertumbuhan bersifat epifitik atau saprofitik, dan kadang-kadang beasosiasi dengan tumbuhan lamun. Algae kelas Chlorophyceae di sebut juga algae hijau, memiliki chlorophyl warna hijau. Secara visual perbedaan berbagai jenis alga ini dibedakan pada bagian percabangan thallus dalam kerangka tubuh yang antara lain bersifat sel banyak atau termasuk multiselluler (Kadi, 1988).
Alga ini mengandung pigmen fotosintetik antara lain chlorophyl ada a dan b, carotene, xanthophyl dan lutein. Dalam dinding selnya terdapat cellulosa dan pectin dengan produk polisakarida berupa kanji (starch). Pembiakan dengan jalan penyebaran spora dan gamet serta fragmentasi thalli. Gamet jantan pada alga hijau umumnya mempunyai bulu cambuk untuk gerakan aktif dalam pembuahan (Kadi, 1988). Sebaran alga hijau utamanya di mintakat litoral bagian atas, khususnya di belahan bawah dari mintakat pasut, dan tepat di daerah bawah pasut sampai kedalaman 10 meter atau lebih, jadi di habitat yang mendapat penyinaran matahari yang bagus. Alga dari kelas ini melimpah di perairan hangat (tropik). Di laut kutub utara, alga hijau jarang ditemukan dan bentuknya kerdil. Di Indonesia tercatat sedikitnya 12 marga alga hijau, yaitu : Caulerpa, Ulva, Valonia, Dictyosphaeria, Halimeda, Chaetomorpha, Codium, Udotea, Tydemania, Bometella, Boergesenia dan Neomeris (Romimohtarto danJuwana, 1999).
Ganggang hijau tumbuh pada kisaran salinitas yang tinggi, bervariasi dari oligotropik yang hidup di laut yang jenuh akan zat terlarut dan sejumlah ganggang yang berkembang di perairan payau. Beberapa orde ganggang hijau hidup di laut secara eksklusif. Keduanya ditemui, baik spesies bentik maupun planktonik. Sejumlah ganggang tumbuh di habitat subaerial. Sejumlah besar organisasi tubuh Chlorophyta yang ditemui bersusunan uniseluler, kolonial (koenobik dan nonkoenobik), berserabut, bermembran, atau seperti lembaran, dan jenis tubular (Bold dan Wynne, 1985).
Ganggang hijau adalah salah satu kelompok ganggang yang besar dalam hal jumlah spesies dan luas persebaran serta dapat beradaptasi pada habitat ekstrim seperti ganggang hijau-biru. Spesies dengan bentuk tubuh lebih kecil kerap kali ditemukan di air tawar atau terestrial dengan siklus hidup meiosis zigotik, meskipun beberapa spesies unisel motil adalah anggota fitoplankton laut (Darley, 1982). Tjitrosoepomo (2005) menyebutkan bahwa sel-sel dari kelas Chlorophyceae mempunyai kloroplas berwarna hijau, mengandung klorofil-a dan -b serta karotenoid. Kloroplas terdiri atas pirenoid tepung dan minyak.

2.2  Halimeda macroloba
Halimeda adalah rumput laut yang termasukkedalam ordo Bryopsidales, klas Chlorophyta. Halimeda merupakan genus calcified coenocytic green algae . Kelompok algae jenis ini dikenal mempunyai nilai penting secara ekologis di daerah perairan tropis. dan mempunyai aktivitas anti bakteri anti jamur, dan juga kaya akan antioksidan (Subagiyo,2009). Metabolit sekunder dari Halimeda macroloba memiliki senyawa bioaktif anti jamur (Ridlo,2009).
Pertumbuhan thalli mengandung zat kapur, pertumbuhan mencapai tinggi 23 cm, Segment tebal bentuk kipas dengan lebar mencapai 21 mm dan panjang mencapai 15 mm serta bagian pinggir bergelombang. Basal segment mencapai lebar 20 mm dan panjang mencapai 15 mm. Diantara basal segment dan segment terdapat bantalan segment yang merupakan tempat pertumbuhan segment. Percabangan utama dichotomous atau trichotomous kelompok dalam satu rumpun. Holdfast berbentuk ubi diameter mencapai 10 mm dan panjang mencapai 20 mm serta tulat atau bongkol sebagai alat pengikat partikel-partikel pasir atau lumpur (Kadi, 1988).
Makroalga jenis ini tumbuh subur pada substrat pasir dan pasir lumpuran. Holdfast berbentuk ubi merupakan alat pengikat terhadap partikel-partikel pasir. Pertumbuhan di alam dapat berasosiasi bersama pertumbuhan lamun. Keberadaannya banyak dijumpai di paparan terumbu karang dengan kedalaman kurang 2 m, pertumbuhan tahan terhadap kekeringan yang bersifat sementara waktu (Kadi, 1988).
Tumbuhan berwarna hijau tua, tumbuh dalam rumpun yang padat, epifit. Ketinggian antara 4-10 mm. Percabangan tidak menentu, kebanyakan dikotomi. Filamen berbentuk filiform bendek dengan ujung berbentuk obtus. Sel berbentuk elips dan berselerak. Thallus tidak licin, berlekuk/berombak (Kadi, 1988). Talus rimbun, blade kaku dan berkapur. Holdfast seperti umbi yang memanjang. Memiliki warna hijau dan pada saat kering memiliki warna hijau kekuningan, habitatnya berada pada substrat berpasir. Genus Halimeda dicirikan dengan karakteristik talus coenocytic, genus ini berkembang baik di terumbu karang bersubstra keras. Talus Halimeda banyak mengandung kapur dan membentuk koloni-koloni atau berkelompok dan mempunyai alat perekat berupa rhizoid dan bersegmen. Pada umumnya Halimeda mempunyai bentuk percabangan yang hampir sama yaitu dichotomous dan trichotomous, bentuksegmen yang silindris dan garis permukaan utrikel yang hampir sama yaitu heksagonal dan polygonal (Tampubolon, 2013).

Untuk mempermudah mempelajari nama dan istilah dari struktur tubuh algae Hali-meda bagian luar, maka kita beri nama dan istilah seperti tumbuhan tingkat tinggi yakni bagian ruas daun, ruas batang dan akar. Bagian struktur tubuh luar di bagi atas: ruas daun (segment), ruas batang (basal segment) dan akar atau ruas pemegang (holdfast). Keseluruhan bagian ini disebut thallus. Oleh sebab itu tumbuhan ini lazimnya disebut tumbuhan berthallus atau thallophyta (Kadi, 1987). Pembaharuan cara identiflkasi oleh HILLIS (1959) dan HILLIS-COLLINVAUX (1980) ialah dengan mengamati struktur organ bagian dalam secara lebih rinci dengan menggunakan mikroskop binokuler dan di-bantu dengan mikroskop elektron. la mem-peroleh bagian-bagian struktur organ bagian.























BAB III
METODE PRAKTIKUM

3.1 Waktu dan Tempat
KKL mata kuliah Taksonomi Tumbuhan Rendah dengan tema “ALGA”ini, dilaksankan pada hari sabtu-minggu, tanggal 12-13 oktober 2013 yang bertempat di pantai kondang merak dan diikuti seluruh mahasiswa Biologi UIN Maulana Malik Ibrahim Malang ankatan 2012.
3.2 Alat dan Bahan
3.2.1 Alat-alat
            Alat-alat yang digunakan dalam KKL pengamatan alga ini adalah:
1.Alat tulis (kertas,pensil,penggaris.papan dada)
2.Kamera
3.Kresek
3.Plastik
4.Icebox
3.2.2 Bahan
            Bahan yang digunakan dalam KKL pengamatan alga ini adalah:
1.Semua jenis alga yang terdampar di pantai kondang merak
3.3 Cara Kerja
            Pengamatan alga dilakukan 2 kali pada sore hari (sabtu) dan pagi hari (minggu) dan cara kerjanya,yaitu:
            3.3.1 Sore hari (sabtu)
            1.Disiapkan alat-alat yang diperlukan
            2.Ditunggu surutnya pantai
            3.Diambil semua jenis alga yang terdampar di pantai kondang merak
            4.Disi air laut untuk plastic,kresek,box
            5.Dimasukkan di plastic,kresek,box untuk semua jenis alga
            6.Disimpan semua jenis alga yang disimpan
            3.3.2 Pagi hari (Minggu)
            1. Disiapkan alat-alat dan bahan (alga) yang diperlukan
            2.Di kelompokkan alga untuk masing-masing divisi (@kelas 1 divisi)
            3.Diambil satu spesies untuk diletakkan diatas kertas
            4. Ditulis nama spesies pada kerta dan diletakkan penggaris
            5. Difoto dengan camera digital
            6.Diidentifikasi dan dicatat pada kertas
            7.Dimasukkan jenis alga pada plastik dan diberi label
8.Diherbarium ketika di jurusan Biologi fakultas Saintek UIN Maliki Malang.














BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Halimeda macroloba
Gambar pengamatan

Gambar literatur



























4.2 Taksonomi
Klasifikasi Halimeda macroloba menurut ITB,2012:
 Kingdom : Plantae
            Divisi : Chlorophyta
            Clasis : Chlorophyceae
            Ordo : Caurlepales
            Famili : Halimedaceae
            Genus : Halimeda
            Spesies : H. macroloba


4.3 Deskripsi
Hasil pengamatan tentang Halimeda macroloba telah difoto dengan sejelas mungkin untuk memudahkan pengamatan. Terlihat bahwa alga ini berwarna hijau tua agak pudar. Warna ini disebabkan oleh pigmen yang dimiliki alga ini. Menurut Kadi 1988) alga ini mengandung pigmen fotosintetik antara lain chlorophyl ada a dan b, carotene, xanthophyl dan lutein. Adanya pigmen klorofil ini yang menyebabkan warna dari alga ini hijau dan ini juga yang menjadi dasar pengelompokkan Halimeda ke dalam Chlorophyta. Pernyataan lain juga mendukung sebab warna pada halimeda, Tjitrosoepomo (2005) menyebutkan bahwa sel-sel dari kelas Chlorophyceae mempunyai kloroplas berwarna hijau, mengandung klorofil-a dan -b serta karotenoid. Jelas sudah bahwa pigmen ini menyebabkan warna hijau pada Halimeda. Klorofil a dan b pada Halimeda ini juga menyebabkan dia bisa melakukan fotosintesis. Tak seperti alga lain, hasil fotosintesis alga ini lebih mirip hasil fotosintesis pada tumbuhan tingkat tinggi.
Talus pada Halimeda memperlihatkan bentuk yang merumpun pada pangkalnya lalu menyebar pada ujungnya. Hal ini dapat diamati pada gambar hasil penelitian, terlihat pada daerah sekitar holdfast, banyak percabangan yang berkumpul. Lalu dari holdfat tersebut menyebar beberapa stipe. Tampubolon (2013) menyatakan bahwa Talus rimbun, blade kaku dan berkapur. Kadi (1988) juga menyatakan hal yang serupa unuk mendukung bentuk talus dari Halimeda ini, bahwa tumbuhan berwarna hijau tua, tumbuh dalam rumpun padat, epifit. Dua pernyataan di atas cukup untuk menjelaskan bahwa bentuk talus dari alga ini adalah merumpun.
Holdfast spesies Halimeda ini terletak di dasar talusnya. Pada gambar terlihat berwarna putih dan berbentuk kotak agak lonjong atau agak mirip dengan ubi. Kadi (1988) menjelaskan bahwa holdfast berbentuk ubi merupakan alat pengikat terhadap partikel-partikel pasir. Pada pernyataan tersebut jelas bahwa bentuk holdfast dari Halimeda adalah ubi dan yang fungsinya adalah menempel pada substratnya. Tambupulon (2013) juga menyatakan hal yang serupa, bahwa Holdfast seperti umbi yang memanjang. Dengan dua pernyataan tersebut, jelas bahwa bentuk holdfast dari Halimeda ini mirip seperti ubi.
Halimeda tersusun atas banyak struktur seperti daun (blade). Hampir seluruh tubuhnya didominasi oleh blade. Struktur ini adalah yang berada di atas holdfast hingga ujung, itu semua adalah blade dari Halimeda ini. Bagian luar dari bladenya terasa kasar bila dipegang serta kaku. Keadaan ini disebabkan kandungan kimia dalam bladenya. Tampubulon (2013) menyatakan bahwa talus rimbun, blade kaku dan berkapur. Jadi morfolgi blade yang keras pada Halimeda ini disebabkan oleh kandungan kapur di dalamnya.
Stipe pada Halimeda sulit untuk diamati. Karena ukurannya yang kecil dan terletak diantara blade dan holdfast. Bentuk stipe ini bias dianggap mirip dengan bentuk batang pada tumbuhan tingkat tinggi. Tapi bentuk stipe pada Halimeda ini tidak panjang dan besar seperti pada tumbuhan tingkat tinggi. Kadi (1988) menyatakan bahwa, basal segment mencapai lebar 20 mm dan panjang mencapai 15 mm. Tapi walaupun kecil, jika diamati dengan teliti, akan dapat ditemukan stipenya.
Halimeda macroloba yang termasuk dalam divisi Chlorophyta mempunyai bebrapa fungsi. Pada anggota Chlorophyta yang lain fugsinya kebanyakan sebagai sumber protein tinggi, seperti pada Chlorella. Tapi pada Halimeda mempunyai fungsi lain karena Halimeda ini mempunyai hasil metabolit sekunder yang bermanfaat dalam hal pencegahan aktivitas jamur. Ridlo (2009) menyatakan bahwa, metabolit sekunder dari Halimeda macroloba memiliki senyawa bioaktif anti jamur. Adanya hasil metabolit ini sangat berguna karena jamur juga merupakan organisme yang merugikan pada beberapa spesiesnya.


           


BAB V
PENUTUP

5.1. Kesimpulan
            Berdasarkan pengamatan yang telah dilakukan dapat diambil kesimpulan bahwa alga yang diamati termasuk ke dalam jenis makroalga.
1.        Klasifikasi dari spesies Halimeda macroloba adalah :
 Kingdom : Plantae
            Divisi : Chlorophyta
            Clasis : Chlorophyceae
            Ordo : Caurlepales
            Famili : Halimedaceae
            Genus : Halimeda
                                                                        Spesies : H. macroloba
2.      Halimeda macroloba termasuk alga yang memliki Divisi clhorophyta karena alga ini bewarna hijau yang disebabkan oleh adanya klorofil a dan b sehingga Secara makroskopis memliki ciri-ciri thallus berbentuk lembaran seperti daun, bersegmen agak tebal, serta bercabang sehingga keseluruhan tubuhnya seperti tanaman kaktus. Habitatnya di laut yang dangkal dan umumnya menempel di batu karang. Perkembang biakan dilakukan secara aseksual dan seksual.

5.2 Saran
            Sebaiknya untuk KKL yang akan datang lebih didisplinkan lagi masalah waktunya sehingga lebih efisien.



DAFTAR PUSTAKA

Bold HC, Wynne JM. 1985. Introduction to Algae. Prentice Hall, Inc. USA.
Darley WM. 1982. Algae biology: A physiological approach. In Wilkinson JF (Ed). Basic Microbiology. Blackwell Sci. Pub. London.
HILLIS, L.W. 1959. A revision of genus Halimeda (Order Siphonales). Department of Botany, Victoria College, Victoria, B.C., Canada Vol VI: 322 - 339.
HILLIS-COUNVAUX, L. 1980. Ecology and taxonomy of Halimeda : Primary producer of coral reefs. In : Marine Biology (BLAXTER, RUSSEL and YONGE eds.). Academic Press, Lon-don, XVII : 2 - 84.
Kadi, & Atmajaya, W. S., 1988. Rumput Laut (Alga), Jenis, Reproduksi, Produksi, Budidaya dan Pasca Panen. LIPI. Jakarta.
Kadi, ahmad.1987.Cara Mengenal Jenis-jenis dari Marga Halimeda.Oseana. Voleme XII, nomor 1:1-12, 1987
Marianingsih, pipit.2013. Inventaris dan identifikasi makroalga di Perairan Pulau Untung Jawa. Jurnal Prosiding semirata FMIPA Unila. Volume 8 n0.1 tahun 2013.
Ridlo,Ali & Pramesti,rini. Aplikasi ekstrak rumput Laut Sebagai Agen Imunostimulan Sistem Pertahanan Non Spesifik Pada udang (Litopenaeus vannamei). Jurnal Ilmu Kelautan.Vol.14(3):133-137.
Romimohtarto, K dan Sri Juwana. 1999. Biologi Laut. Ilmu Pengetahuan Tentang Biota Laut. Penerbit Djambatan. Jakarta.
Subagiyo.2009. Uji Pemanfaatan Rumput Laut Halimeda sp. Sebagai Sumber Makanan Fungsional untuk Memodulasi Sistem pertahanan Non Spesifik pada udang Putih (Litopenaeus vannamei).Jurnal Ilmu Kelautan. Vol.14 (3):142-149
Tampubolon,Agrialin.2013.Boodiversitas Alga Makro di Lagus Pulau Pasige, Kecamatan Tagulandang, Kabupaten Sitaro. Jurnal Pesisir dan Laut Tropis. Volume 2 no.1,2013.
Tjitrosoepomo G. 2005. Taksonomi Tumbuhan Obat-Obatan. Gadjah Mada Univ. Press.Yogyakarta.
Verhejj. E., 1993. Marine Plants on the Reefs of the Spermonde Archipelago, SW Sulawesi, Indonesia : Aspects of Taxonomy, Floristics, and Ecology. Blumea, volume 37 no.2 1993.







No comments:

Post a Comment

Sleep Loss and College Student Performance

The college experience is of great value in providing emerging adults with a structured environment in which they can gain the knowledge, sk...